Rasakan Sensasi Melodi Musik Jepang
Apakah yang kalian rasakan dalam hati saat film kartun Naruto mulai dengan lagu pembukanya?, bersemangatkah?, berkhayal larut kedalam kisah naruto?, melayang kedalam sensasi lagunya?, itulah yang mungkin juga saya rasakan.
Mulai tertarik dengan musik jepang saat film Samurai X ditayangkan, waktu kelas berapa itu ya, wah lupa saya, hahaha. Lagu yang saya ingat betul adalah Heart of Sword karya TM Revolution, terus lagu Fourth Avenue milik Laruku, Sobakasu yang dinyanyikan oleh Judy n Mary. Berlanjut ke Inuyasha, Digimon, Trouble Chocolate, Captain Tsubasa, Offside, Shoot, One Piece, Detective Conan, Gekifu, Bakugan, Naruto, Bleach dan banyak lagi yang lain.
Ya bisa dikatakan saya juga adalah penggemar anime jepang. Selain lagu dari Soundtrack anime saya juga tertarik pada penyanyi atau band jepang lainnya seperti Yui, SID, Remioromen dan masih banyak lagi. Wah bilang saja suka semuanya, ya bolehlah.
Eh tahu tidak kapan musik jepang masuk ke Indonesia?, apakah sama alirannya seperti musik-musik yang ada di Indonesia, ya sama ada aliran Pop dan Rock juga tapi aliran melayu tidak ada deh kayaknya, tapi musik dangdut ada lho ternyata dikenal dengan J-Dangdut kalau aliran pop namanya J-Pop kalau aliran Rock namanya J-Rock. Seperti nama band beraliran jepang idola saya J-Rocks.
Di Indonesia, demam J-Pop dimulai saat lagu Ko Ko Ro No Tomo meledak di tahun 80-an. Agak unik sebenarnya, ketika lagu-lagu pop cengeng begitu merajalela, Mayumi Itsuwa, tiba-tiba masuk dan memberikan sebuah perbedaan. Ketika itu, semua penggemar musik pop tiba-tiba bisa berbahasa Jepang.
Berawal dari J-pop yang dipengaruhi musik luar, dan hasilnya pun menggebrak dengan ekspansi sampai ke luar Jepang. Artis-artis J-Pop mulai melakukan pertunjukan ke luar Jepang dimulai dari seputar negara-negara di Asia, kemudian meluas ke Australia, Amerika, bahkan Eropa. Bahkan J-pop mulai dijadikan inspirasi musik di beberapa negara seperti Indonesia dengan grup-grup yang terinspirasi oleh artis Jepang paling pasaran di Indonesia, L`arc en Ciel. Kemudian menyusul gaya fashion mereka yang ditiru.
Tak cuma genre pop, J-Rock pun menjadi salah satu wabah di negara-negara Asia. Gaya rock ala Jepang banyak ditiru dan mejadi trend bermusik di banyak negara termasuk Indonesia. Akar lahirnya J-Rock pun sebenarnya tak berbeda dengan J-Pop. Sejarah J-Rock dimulai tahun 1957 dengan dikenalnya musik rock di Jepang bersamaan dengan puncak kepopuleran rockabilly yang merupakan salah satu gaya rock ‘n’ roll.
Gitar elektrik produk dalam negeri yang bisa dibeli dengan harga murah membantu terciptanya demam Ereki (musik rock dengan gitar elektrik). Istilah “Ereki” merupakan singkatan dari kata erekigitā (gitar listrik). Penggemar musik rock di Jepang banyak yang berganti identitas dari pendengar setia menjadi musisi rock.
Sejak pertengahan tahun 2000-an terdapat banyak sekali grup bergenre Melodic Hardcore dan Emocore seperti Ellegarden dan Asian Kung-Fu Generation. Musisi yang berjasa di masa kejayaan Melodic Hardcore tahun 1990-an juga ikut bangkit kembali, misalnya: mantan anggota Hi-Standar yang bernama Ken Yokoyama berkarier solo, Ultra Brain, dan Snail Ramp.
Di Indonesia, perkembangan J-Rock juga cukup popular. Berterimakasihlah kepada anime Jepang. Soundtrack anime banyak dinyanyikan musisi papan atas Jepang. Sebut saja, L’ arc en ciel (dikenal juga sebagai Laruku), yang menyanyikan soundtrack serial Samurai X. Ada T.M. Revolution yang mengisi soundtrack-nya City Hunter dan Gundam. Selain itu, ada juga Mitsuko Horie, penyanyi solo yang menunjukkan kemampuan vokalnya lewat soundtrack serial Saint Seiya dan Candy-Candy. Musik inilah yang kemudian disebut sebagai Japanese Rock (J-Rock). Tapi jangan salah, musik J-Rock tak hanya sebatas soundtrack anime saja. Semua musik bergenre rock yang dimainkan band atau penyanyi asal Jepang yang bisa dikategorikan J-Rock.
Yang terkenal tentu saja band yang menamakan dirinya J-Rocks. Awalnya mereka adalah copy-cat fashion dan musikalitas Japannesse Rock. Meksi ini sudha menyelip dan melebur masuk dalam industri pop. Malah J-Rocks baru saja mendapat kesempatan untuk merekam beberapa lagunya di Abbey Road, tempat rekeman legendaries di Inggris. Tempat yang sudah melahirkan beberapa band besar, termasuk The Beatles.
Lantaran gandrung dengan lagu soundtrack, banyak yang tertarik mendirikan band khusus memainkan musik ini. Lagu-lagu yang dimainkan tak jauh-jauh dari lagu tema anime. Wasabi dan Japanese Heroes adalah pelopor band J-Rock di sini. Kehadiran Wasabi dan Japanese Heroes memicu munculnya band-band pengusung J-Rock baru seperti J-Rocks, Jetto, dan Leto di Jakarta atau Sound Wave dan Lucifer di Bandung. Serunya, band J-Rock generasi baru ini memainkan tak hanya soundtrack saja. Tapi juga single-single band J-Rock lain seperti X-Japan, Luna Sea, Dir and Grey serta Asian Kung Fu Generation.
Kemudian ada nama Amakuza, band heavy-metal dari Jakarta yang lahir karena sebagian besar personilnya sempat kuliah di Sastra Jepang. Mereka memilih bermain metal asli Jepang, dengan ornament musik klask Jepang. Malah Amakuza dan beberapa band metal pengusung Japannesse Metal, sempat merilis kompilasi indie, beberapa tahun silam di Jakarta.
Nah itulah yang menurut saya menarik, lagunya, melodi gitarnya, dan fashion yang mereka tampilkan sangat berbeda. Amazing!!!
Bravo Japanese Music, Indonesian Music #1spirit

